Bacaan Online Jagat Satria

duniaabukeisel@jagatsatria

Traffic

Hari ini505
Kemarin539
Minggu ini2720
Bulan ini11113
Total320379

PENGANUT

ILMU HITAM

 

Oleh Aji Saka

 

 https://www.facebook.com/DuniaAbuKeisel

 

 

 

1

 

Hiyaaa...!"

Sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda berpacu cepat merambah sebuah hutan. Sang kusir ternyata seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh tahun dan pakaiannya berwarna biru muda. Gadis itu tak henti-hentinya melecutkan cambuk ke punggung kuda itu, dalam usahanya memacu laju kudanya secepat mungkin.

Wajah gadis itu menampakkan kecemasan yang hebat Jelas ada sesuatu yang ditakutinya. Dan itu memang benar! Di belakangnya, hanya berjarak sekitar beberapa tombak, belasan orang berkuda mengejarnya.

Sedikit demi sedikit jarak di antara mereka kian dekat. ??k lama kemudian, para pengejar yang berada di bagian terdepan, mulai menyusul kuda itu. Sudah dapat ditebak maksudnya. Apalagi kalau bukan menyalip kereta kuda itu.

Ketika dua orang pengejar itu sudah menyusul, mereka masing-masing berada di kanan kiri kereta kuda. Tirai yang menutupi pintu kanan dan kiri kereta kuda itu tersingkap. Dan dari balik tirai yang tersingkap Itu, muncul masing-masing sebuah tangan yang langsung mengibas.

Singgg...! Singgg...!

Sebilah pisau melesat dari masing-masing pintu kereta, dan mengarah pada pengejar yang menyusul kereta kuda itu.

Peristiwa selanjutnya terjadi begitu cepat.

"Akh...! Akh...!"

Jerit lengking kematian terdengar ketika pisau- pisau itu mengenai tubuh dua pengejar yang menyusul kereta kuda itu. Seketika itu juga tubuh mereka roboh ke tanah dalam keadaan tanpa nyawa.

Tentu saja melihat kejadian itu, para pengejar yang berada di belakang kedua orang yang sial itu menjadi gusar bukan kepalang. Dua di antara mereka yang terdepan, segera menggerakkan tangannya.

Singgg...! Singgg...!

Dua bilah pisau berwarna putih mengkilat melesat cepat ke arah dua ekor kuda yang menarik kereta.

Cappp...! Cappp...!

Telak dan keras sekali dua bilah pisau menembus leher dua ekor kuda itu. Seketika itu juga dua ekor kuda penarik kereta meringkik keras, kemudian roboh ke tanah, mati.

Tentu saja dengan matinya dua ekor kuda itu, laju kereta pun terhenti diiringi suara hiruk pikuk.

Wanita cantik berusia dua puluh tahun yang menjadi kusir itu melompat turun dari keretanya.

"Hup...!"

Ringan tanpa suara kedua kaki gadis berpakaian biru muda itu hinggap di tanah, di bagian belakang kereta. Tepat berada di depan para penunggang yang mengejarnya. Menilik dari sikapnya, terlihat jelas kalau gadis itu berusaha melindungi isi kereta dari para pengejarnya.

"Hup...!"

Belasan orang pengejar kereta kuda itu pun berlompatan turun dari kudanya, begitu melihat gadis cantik berpakaian biru muda itu bersikap menghalangi. Di tangan gadis itu terhunus sebilah pedang.

"Ke mana pun kalian pergi, tetap akan kami kejar. Orang seperti kau dan kedua orang tuamu itu harus mati, Malini!”seru salah seorang dari belasan pengejar itu yang berusia setengah baya, berpakaian warna kuning emas. Cambang yang cukup lebat menghiasi pipinya. Wajah dan sikapnya gagah, seperti juga belasan orang lainnya. Tidak ada potongan perampok ataupun penjahat sama sekali baik pada wajah mau- pun sikap mereka.

Gadis berpakaian biru muda yang dipanggil Malini itu tersenyum sinis. Ditatapnya wajah laki-laki berpakaian kuning emas. Sorot matanya memancarkan cemoohan.

"Kalian tidak lebih baik dariku atau orang tuaku! Kalian yang menyebut diri sendiri sebagai pendekar dan tokoh golongan putih, nyatanya tidak malu-malu untuk melakukan pengeroyokan terhadap keluarga kami. Kalian tidak berani melawan kami satu persatu. Begitu pula dengan kau, Pendekar Baju Emas."

Sekujur wajah laki-laki berbaju kuning emas yang dipanggil Pendekar Baju Emas memerah.

"Tutup mulutmu, wanita liar! Menghadapi kau dan orang tuamu tidak perlu segala aturan! Kalian sekeluarga bukan manusia, tapi iblis! Kalian tidak patut dibiarkan hidup! Hiyaaa...!"

Setelah berkata demikian, laki-laki berpakaian kuning emas itu melompat menerjang Malini. Pedang di tangannya meluncur cepat ke arah leher. Ada suara mendesing yang cukup nyaring mengiringi tibanya serangan itu.

Tapi gadis berpakaian biru muda itu hanya tersenyum mengejek. Dengan sebuah gerakan sederhana, digeser kakinya ke samping kanan, sehingga tusukan pedang itu lewat di samping lehernya. Dan begitu serangan lawan telah berhasil dielakkannya, Malini menyabetkan pedangnya ke tangan Pendekar Baju Emas.

Tapi orang berpakaian kuning itu bukan orang lemah. Buru-buru ditarik kembali serangannya sehingga babatan pedang gadis berpakaian biru muda itu mengenai tempat kosong. Bersamaan ditarik kembali serangannya, kaki kanannya menendang ke arah pergelangan tangan lawannya.

Takkk...!

"Aaakh...!"

Gadis berpakaian biru muda itu terpekik. Serangan Pendekar Baju Emas begitu mendadak datangnya, sehingga tak sempat lagi dihindarinya. Telak dan keras sekali tendangan itu mengenai pergelangan tangannya. Seketika itu juga pedangnya terlempar dari pegangan.

Trek!

Laki-laki berbaju kuning emas itu menyarungkan kembali pedang ke dalam sarungnya.

"Kawan-kawan...! Urus suami istri iblis itu! Biar aku yang akan mengurus wanita liar ini!”seru Pendekar Baju Emas itu keras.

Mendengar seruan itu, belasan orang yang sejak tadi hanya mengawasi sekeliling dengan sikap waspada, serentak bergerak menghampiri kereta.

"Keparat...! Jangan harap kalian akan dapat menyentuh kedua orang tuaku, selama aku masih ada disini!”seru gadis berpakaian biru muda keras. Sekali digerakkan kakinya, maka tubuh yang ramping dan menggiurkan itu telah menghadang di depan belasan orang yang hendak menuju kereta.

"Teruskan tugas kalian!”seru Pendekar Baju Emas.

Setelah berkata demikian, laki-laki setengah baya Itu segera melesat menerjang gadis berpakaian biru muda.

Tangan kanannya menyampok keras ke arah pelipis, sementara tangan kirinya terpalang di depan dada. Berjaga-jaga apabila lawan melancarkan serangan.

Wuttt..!

Angin cukup keras berhembus ketika serangan itu menyambar. Tanpa ragu-ragu Malini menggerakkan tangan kiri menangkis serangan itu.

Plakkk...!

Tubuh gadis berpakaian biru muda terhuyung dua langkah ke belakang. Dari mulutnya terdengar suara pekikan kaget. Tangan yang berbenturan dengan ta-ngan Pendekar Baju Emas itu terasa ngilu. Seolah-olah yang beradu dengan tangannya tadi bukan tangan manusia yang terdiri dari kuli dan daging, melainkan batang baja yang keras.

Bukan hanya itu saja yang dirasakan Malini. Dadanya pun dirasakan sesak bukan main. Sementara laki-laki berpakaian kuning itu hanya tergetar saja tangannya. Jelas terbukti keunggulan tenaga dalam yang dimiliki Pendekar Baju Emas.

 

***

 

Kembali laki-laki berbaju kuning emas ini melompat menyerang Malini. Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat dalam pertarungan sengit.

Melihat gadis berpakaian biru muda yang tadi berdiri menghadang jalan telah dihadapi oleh Pendekar Baju Emas, rekan-rekannya pun segera bergerak menuju kereta kuda.

Srat...! Sret...!

Semakin dekat mereka menghampiri kereta kuda itu, langkah belasan orang itu semakin hati-hati. Senjata-senjata pun telah terhunus semua di tangan mereka. Sikap mereka tampak waspada.

"Hantu Putih! Keluar kau...! Atau kami bakar gerobak mu ini!”seru salah seorang yang mendekati kereta.

Belasan orang itu menunggu sejenak. Tapi, tidak tampak tanda-tanda kalau orang yang berada di dalam kereta akan keluar. Jangankan keluar, menyahut pun tidak.

"Baik, Hantu Putih! Jangan katakan kejam, kalau kami bakar kereta mu ini!"

Setelah berkata demikian, salah seorang dari mereka yang bertubuh tinggi besar dan bersenjatakan gada berduri, segera menyalakan obor.

"Kami beri kau kesempatan sekali lagi, Hantu Putih! Keluar, atau kereta ini kami bakar!"

Orang yang bersenjatakan gada berduri itu menunggu sejenak. Tapi, seperti kejadian sebelumnya, sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kereta yang tertutup rapat kedua pintunya itu.

"Kesempatan untukmu telah kau sia-siakan sendiri, Iblis! Terimalah kematianmu...!"

Orang yang bersenjatakan gada berduri, melemparkan obor yang sejak tadi digeng-gamnya, ke arah kereta kuda itu.

Obor itu pun melayang cepat ke arah kereta. Sudah dapat dipastikan kalau kereta kuda itu akan menjadi kobaran api.

Mendadak terdengar suara bentakan keras.

"Manusia terkutuk...!"

Belum juga gema suara itu habis, angin keras berhawa panas menyengat, menderu memapak obor yang melayang ke arah kereta itu.

Prattt...!

Terdengar suara berderak keras ketika tangkai obor itu hancur berkeping-keping dan berserakan entah ke mana. Apinya pun seketika itu juga padam.

"Orang gila dari mana yang berani unjuk gigi di hadapan Gada Pencabut Nyawa?”teriak orang yang bersenjatakan gada berduri. Sepasang matanya menatap liar ke arah angin keras itu berasal.

Beberapa tombak di depan Gada Pencabut Nyawa, berdiri seorang pemuda tampan berwajah jantan. Rambutnya putih keperakan dan di punggungnya tersampir sebuah guci arak perak.

"Kau?! Siapa kau, Anak Muda? Mengapa kau menghalangi pekerjaanku?!”tanya Gada Pencabut Nyawa setengah membentak.

Pemuda berambut putih keperakan itu menatap wajah orang-orang di sekelilingnya. Sorot matanya tajam menusuk.

"Aku Arya, seorang pengelana. Dan memang sudah menjadi sifatku untuk tidak tinggal diam begitu saja melihat adanya kesewenang-wenangan di depan mataku!”tandas pemuda berambut putih keperakan yang ternyata Arya alias Dewa ?rak. ??k terlihat Melati di sampingnya, karena gadis berpakaian serba putih itu dimintai pertolongannya oleh Prabu Nalanda sehubungan dengan terjadinya kemelut di Kerajaan Bojong Gading.

"Huh...,”Gada Pencabut Nyawa mendengus. "Jangan berlagak menjadi pahlawan, bocah sombong! Menyingkirlah cepat! Sebelum kesabaranku hilang!"

Dewa Arak tersenyum pahit. Kemarahannya timbul mendapat ucapan seperti itu. Tapi buru-buru ditahannya. Pengalaman selama ini telah mengajarkan pemuda berambut putih keperakan itu untuk tetap tidak terpengaruh emosi. Kemarahan hanya akan menyempitkan pandangan. Dan Arya tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya.

"Aku tidak akan bergeming dari tempatku, selama kau belum meninggalkan tempat ini!”tegas dan mantap kata-kata Dewa Arak

"Keparat..!”maki Gada Pencabut Nyawa. Kemarahannya sudah tidak bisa ditahannya lagi. "Orang seperti kau harus diberi pelajaran! Kalau tidak, akan semakin sombong dan kurang ajar! Hiyaaa...!"

Setelah berkata demikian, Gada Pencabut Nyawa segera menerjang Dewa Arak. Gada panjang berduri dl tangannya diayunkan deras ke arah kepala Dewa Arak.

Wuuuttt..!

Angin berhembus keras mengiringi tibanya serangan gada itu. Suatu bukti nyata kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Gada Pencabut Nyawa.

Tapi Dewa Arak bersikap tenang. Sama sekali tidak dikeluarkan ilmu andalannya. Arya hanya mengeluarkan ilmu warisan ayahnya, 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Segera didoyongkan badannya ke belakang, sehingga babatan gada itu lewat sejengkal dl depan wajahnya.

Gada Pencabut Nyawa bertambah murka melihat serangannya dapat dielakkan begitu mudah oleh pemuda berambut putih keperakan itu Sebagai akibatnya, serangan gadanya pun semakin dahsyat Menderu-deru seperti angin topan mengamuk.

Tapi Dewa Arak benar-benar membuktikan kelihayannya. Sungguhpun serangan gada berduri itu datang bertubi-tubi, susul-menyusul seperti angin topan mengamuk, tetap saja Arya tidak mengalami kesulitan mengelakkannya. ??k terasa lima belas jurus telah berlalu. Dan selama itu, Dewa Arak sama sekali tidak pernah membalas serangan lawannya, hanya mengelak saja, mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya.

Memang, dengan ilmu meringankan tubuh yang berada jauh di atas lawan, tidak sulit bagi Arya untuk mengelakkan setiap serangan. Enak saja tubuhnya menyelinap, di antara kelebatan gada berduri lawannya.

Gada Pencabut Nyawa meraung murka. Sikap tenang dan menganggap enteng dari Dewa Arak, menyebabkan kemarahannya memuncak. Pemuda berambut putih keperakan Itu sama sekali tidak bar sungguh-sungguh menghadapinya. Arya sama sekali tidak pernah balas menyerang, dan hanya menghina saja. Sebagai seorang tokoh persilatan, Gada Pencabut Nyawa merasa terhina sekali melihat sikap Dewa Arak. Dan sebagai akibatnya, amukannya pun semakin dahsyat dan membabi buta.

Begitu melihat Gada Pencabut Nyawa telah terlibat perkelahian dengan pemuda berambut putih keperakan, rekan-rekan Gada Pencabut Nyawa segera menghampiri kereta yang kedua pintunya masih ter- tutup rapat Entah tokoh macam ??? yang berada di dalam kereta sehingga membuat belasan orang gagah itu bersikap khawatir sekali.

"Hiyaaa...!"

Seraya mengeluarkan suara jerit melengking rearing, Dewa Arak melenting ke atas. Tubuh pemuda berambut putih keperakan itu berputar beberapa kali dl udara, kemudian mendarat ringan tanpa suara di tanah, di hadapan belasan orang itu.

Tentu saja hal ini membuat belasan orang gagah itu menjadi geram. Kini mereka sadar bahwa Dewa Arak harus disingkirkan lebih dahulu kalau niat mereka terhadap orang yang berada di dalam kereta ingin terlaksana.

Tanpa sungkan-sungkan lagi belasan orang gagah itu menyerbu Arya. Gada Pencabut Nyawa pun semakin bersemangat melihat rekan-rekannya ikut membantu.

Kini Dewa Arak tidak berani hanya mengelak saja seperti tadi. Tapi sungguhpun begitu, Arya masih tetap belum mengeluarkan ilmu andalannya. Masih digunakan juga ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' andalannya.

"Haaattt...!”teriak Gada Pencabut Nyawa keras. Tokoh ini memang sejak tadi sudah geram bukan main pada pemuda berambut putih keperakan di hadapannya. Serangan laki-laki bertubuh pendek gemuk ini selalu membawa ancaman maut.

Wuuuttt...!

Gada berduri menyambar deras ke arah kepala Dewa Arak. Di saat itu dari arah belakang Arya, meluncur pula sebilah pedang yang menyambar cepat ke arah lehernya. Sementara dari sebelah kanannya menyambar deras sebuah cambuk yang melecut deras ke arah kepalanya. Sungguh tiga buah serangan maul yang berbahaya. Dan sulit untuk mengelakkannya.

Dewa Arak pun menyadari hal itu. Tapi tidak membuatnya menjadi gugup. Dengan perhitungan yang matang, dirundukkan tubuhnya. Sehingga serangan gada dan tusukan pedang lewat begitu saja di atas kepalanya.

Sementara lecutan cambuk itu disambutnya dengan tangan, secepat kilat kaki ka-nannya mementil ke belakang. Ke arah orang yang menusukkan pedang.

Prattt..! Tappp...! Bukkk...!

"Hih...!"

"Hugh...! Aaa...!"

Kejadian itu berlangsung demikian cepat. Tubuh dua orang penyerang itu segera berpentalan. Si penyerang yang bersenjatakan pedang terjengkang ke belakang ketika tendangan Dewa Arak telak dan keras mengenai perutnya. Untung Arya hanya mengerahkan sebagian kecil saja dari tenaga dalam yang dimilikinya Kalau tidak, tentu penyerang itu akan tewas dengan seluruh isi perut berantakan.

Si penyerang yang bersenjatakan cambuk agak lebih baik nasibnya ketimbang rekannya yang bersenjatakan pedang. Cambuk yang melecut ke arah leher pemuda itu, ternyata tidak hanya ditangkis oleh pemuda itu melainkan dibelit dan langsung disentakkan. Keras bukan main' sentakan Dewa Arak, sehingga tanpa ampun lagi tubuh si penyerang yang bersenjatakan cambuk itu terlempar ke atas.

"Hup...!"

Sungguhpun dengan agak terhuyung-huyung, si penyerang yang bersenjatakan cambuk itu masih juga dapat mendaratkan kedua kakinya di tanah.

Tapi belum juga Dewa Arak menghela napas lega, Belasan orang lainnya telah kembali menyerang.

Sesaat kemudian Dewa Arak pun kembali terlibat dalam pertempuran sengit.

 

***

 

Sementara itu pertarungan antara Malini dan Pendekar Baju Emas semakin berlangsung sengit dalam hal tenaga dalam memang gadis berpakaian biru muda ini berada di bawah lawannya. Tapi kekalahannya itu tertutup oleh kelebihannya dalam hal ilmu meringankan tubuh. Alhasil pertarungan berjalan seimbang!.

Tiga puluh lima jurus telah berlalu, namun belum nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Hal ini tentu saja membuat Pendekar Baju Emas yang merupakan seorang tokoh persilatan cukup ternama, menjadi geram bukan kepalang. Betapa tidak? Menghadapi seorang gadis muda saja tidak mampu mengalahkannya ?

Tanpa seorang pun yang melihat, pintu kereta yang sejak tadi tertutup itu pelahan-lahan terbuka.

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun! Kemudian dari dalam pintu kereta yang terbuka itu melesat keluar dua sosok tubuh. Yang satu seorang laki-laki setengah tua bertubuh kurus kering, bergigi tonggos, dan berpakaian putih. Inilah tokoh yang berjuluk Hantu Putih.

Sedangkan yang seorang lagi, adalah istrinya yang berjuluk Hantu Merah. Pakaiannya merah menyala dengan sebuah cadar tipis berwarna hitam menutupi sebagian wajahnya. Suami istri inilah yang di dunia persilatan mendapat julukan Sepasang Hantu.

Kemudian kedua orang ini melangkah pelahan meninggalkan tempat itu. Menilik dari gerakan mereka berdua, dapat diketahui kalau kedua orang ini tengah menderita luka dalam yang parah.

Dengan langkah pelahan-lahan dan kepala yang selalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti takut ada yang melihatnya, kedua orang ini mendekati tempat pertarungan antara Malini dan Pendekar Baju Emas.

Pendekar Baju Emas yang berada dalam posisi membelakangi dua orang yang tengah berindap-indap mendekatinya, tentu saja tidak melihat adanya bahaya yang mengancam Tapi tidak demikian halnya Malini.

Gadis berpakaian biru muda itu tentu saja melihat jelas kedatangan dua orang tua yang sebenarnya adalah ayah dan ibunya. Tapi dia berpura-pura tidak tahu ketika melihat adanya isyarat dari Ibunya.

Pendekar Baju Emas baru sadar adanya bahaya mengancam ketika mendengar desiran angin menyambar ke arahnya. Padahal saat itu, Malini tengah menerjang ke arahnya. Pedang di tangan gadis itu meluncur cepat ke arah dada!

Laki-laki berbaju kuning emas itu menjadi gugup. Ditolehkan kepalanya ke belakang, untuk mengetahui a?? yang berkesiur ke arahnya itu. Seketika wajahnya pucat begitu melihat sehelai selendang yang tengah meliuk-liuk ke arah pelipisnya.

?ak ketinggalan juga sebuah kerikil yang meluncur ke lehernya. Tapi bukan kedua serangan itu yang membuat Pendekar Baju Emas ini kaget, melainkan dua orang penyerangnya. Dikenalinya betul kedua penyerang itu. Dua orang yang tengah dikejar oleh dia dan rekan-rekannya.

Sungguhpun perasaan gugup dan kaget melanda dirinya, Pendekar Baju Emas masih mampu untuk menghindarkan selendang yang menotok ke arah pelipisnya. Tapi dua buah serangan lainnya tidak mampu dihindarinya.

Tukkk...!

Kerikil kecil yang dilemparkan salah seorang dari dua orang tua itu tepat sekali mengenai urat gagunya. Bersamaan pedang di tangan Malini menyambar tiba.

Crottt!

Pendekar Baju Emas menggelepar ketika pedang dl tangan gadis berpakaian biru muda Itu menghunjam dalam di perutnya hingga tembus ke punggung. Darah langsung muncrat dari perut yang terobek lebar. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut Pendekar Baju Emas, karena urat gagunya telah tertotok oleh batu yang dilontarkan laki-laki tua bergigi tonggos.

Beberapa saat lamanya tubuh Pendekar Baju Emas menggelepar-gelepar sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi. Tewas dengan mata terbeliak lebar!

Tanpa mempedulikan mayat laki-laki gagah berbaju kuning emas itu, Malini bersama ayah dan ibunya meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian tubuh ketiga orang itu telah lenyap ditelan kelebatan pepohonan dan semak-semak.

Sementara, Dewa Arak masih terlibat pertarungan sengit menghadapi belasan orang gagah itu. Sudah ada lima sosok tubuh yang tergeletak di tanah, tidak mampu melanjutkan pertarungan lagi. Sungguhpun begitu, tidak satu pun di antara mereka yang tewas. Dewa Arak memang tidak ingin sembarangan membunuh. Apalagi membunuh orang yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan urusannya.

Gada Pencabut Nyawa menggertakkan gigi menahan geram. Pertarungan sudah berlangsung lebih dari tiga puluh jurus, dan selama itu, tak satu pun serangan salah seorang dari mereka yang mengenai pemuda berambut putih keperakan Itu. Jangankan menyarangkan pukulan, mendesak pun tidak mampu. Padahal, Dewa Arak terlihat tidak bersungguh-sungguh menghadapi mereka.